Tampilkan postingan dengan label tsunami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tsunami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2011

Pelajaran dari Gempa dan Tsunami Jepang


Gempa bumi berkekuatan 9 skala Richter disertai tsunami telah mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011. Pusat gempa tepat berada 130 kilometer (km) di lepas pantai timur kota Sendai atau 400 km di timur laut kota Tokyo pada kedalaman 24,4 km.
Gempa bumi ini menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat setinggi 10 meter di sekitar kota Sendai.

"Kami prihatin dengan peristiwa ini. Namun, dari peristiwa ini kami bisa belajar banyak bagaimana pemerintah Jepang beserta rakyatnya menangani fase responsif di dalam manajemen bencana gempa bumi," ujar pakar geologi Universitas Gadjah Mada, Dr Subagyo Pramumijoyo.

Bersumber informasi dari Japan Meteorological Agency di Jakarta belum lama ini, Subagyo mengatakan, gelombang P yang datang pertama di rekaman seismometer sesungguhnya dapat dipergunakan sebagai peringatan dini, meskipun hanya beberapa detik sebelum tempat seismometer tersebut diguncang gempa bumi. Gelombang tersebut kemudian rusak saat gempa bumi akibat gelombang S yang datang belakangan setelah gelombang P.

Pengajar di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM ini menjelaskan, dari jarak 130 km dari pusat gempa bumi, kota Sendai akan menerima sinyal gelombang P yang berkecepatan kurang lebih 6 km/detik setelah 21,6 detik, dan gelombang S yang berkecepatan 4 km/detik yang merusak akan tiba di Sendai setelah 32,5 detik.
Jadi, sesungguhnya masih ada selisih 10,9 detik untuk mengingatkan masyarakat bahwa akan datang gempa bumi dahsyat. Sementara itu, di Tokyo yang berjarak 400 km dari pusat gempa masih memiliki selisih kedatangan gelombang P dan S selama 33,4 detik.

"Dengan demikian, penduduk Sendai sebenarnya masih punya beberapa menit untuk menghindar dari gelombang tsunami yang akan datang menyapu kawasan pantai," katanya.
Namun tak ayal, di kota Sendai sekitar 20 ribu rumah rusak dan diperkirakan 20 ribuan jiwa yang meninggal.

Pemerintah Jepang lalu menerjunkan 50 ribu pasukan beladiri (tentara) Jepang dan NHK langsung melakukan peliputan di wilayah yang diterjang tsunami dengan helikopter. "Sebab di Jepang, organisasi hierarkis terbaik adalah organisasi tentara," kata Subagyo Pramumijoyo yang dilansir laman UGM.

Dari berbagai informasi dan tayangan televisi, Subagyo berpendapat masyarakat Jepang telah memiliki kesadaran dan kesiapsiagaan bencana gempa. Mengingat negara dalam wilayah rawan gempa, mereka telah mendapatkan itu semua melalui sosialisasi bencana gempa bumi.
"Mereka akan mencari tempat berlindung terdekat, di kolong meja ataupun di mana mereka merasa aman. Masyarakat terkesan sudah sangat terlatih dengan bencana gempa," tuturnya.

Di samping itu, masyarakat Jepang dinilai memiliki budaya disiplin dan kejujuran yang tinggi. Hal itu tercermin saat mereka menghadapi bencana gempa.
"Saya rasa tanpa disiplin yang tinggi masyarakat tidak akan tenang menghadapi gempa bumi. Mereka tetap antre dengan tertib untuk memperoleh jatah bantuan paska gempa utama terjadi," kata dia. "Harga-harga di Tokyo masih stabil. Berbeda dengan pengalaman saat gempa bumi di Yogyakarta 2006, harga sekotak supermi pun bisa menjadi tiga kali lipat."

Demikian pula dengan penanganan reaktor nuklir di Fukushima, pemerintah Jepang langsung merespons dengan cepat menyatakan darurat nuklir.
Pemerintah pun dengan segera mengevakuasi 200.000 rakyatnya dari radius 20 km dari reaktor nuklir. "Kami tentu dapat belajar bagaimana membangun reaktor nuklir. Tidak saja membangun, namun bagaimana bisa membekali para pengelola nuklir dengan disiplin tinggi," katanya.

Meski masih dalam penanganan para ahli, tingkat radiasi saat ini telah mencapai 160 kali tingkat radiasi normal. Bahkan, empat hari setelah kerusakan reaktor nuklir Fukushima, masyarakat Tokyo yang berjarak 250-an km telah mendapat imbauan untuk tetap tinggal di dalam rumah karena dikhawatirkan akan terkena debu nuklir.

Lagi-lagi, kita bisa belajar dari peristiwa ini. Kalaupun tetap pada keinginan membangun reaktor nuklir, tentu dapat memilih tempat yang paling aman dari bencana terutama gempa bumi. Dengan berbagai pertimbangan ekonomi, memang diharapkan bisa memiliki reaktor nuklir, tetapi perlu dipertimbangkan ke mana limbah akan dibuang. 

Kamis, 24 Maret 2011

Foto Pertama Pahlawan Nuklir Fukushima Terkuak


Sejumlah pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Dai-Ichi kini sedang mempertaruhkan nyawa, berjuang untuk menyelamatkan seluruh negeri dari krisis nuklir parah.

Mereka sedang berusaha menyambungkan kembali kabel, mengecek peralatan, dan mendinginkan reaktor nomor 3 dan 4.

Tak ada yang tahu pasti, siapa saja nama orang-orang berani itu. Mereka hanya dikenal dengan sebutan 'Fukushima 50' atau 'Samurai Nuklir Fukushima'.

Dari sejumlah gambar yang diambil dari dalam PLTN, untuk kali pertamanya, dunia mengetahui kondisi mereka yang bekerja di tengah kegelapan dan hawa yang menyengat.
Mengenakan pakaian pelindung para pekerja sedang berjuang, dalam kondisi sepenuhnya sadar, bahwa radiasi bisa membunuh mereka kapanpun.
Sudah lima pekerja dilapokan tewas dan 15 terluka dalam medan pertempuran Fukushima. Salah satunya seorang manajer berusia 30-an yang ditarik keluar dari PLTN karena menderita paparan radiasi yang melewati ambang batas, 100mSv per tahun.

Pria itu tak menyerah, ia bermaksud kembali ke PLTN dan melanjutkan perjuangan. "Kalau batas radiasi dinaikkan menjadi 250 millisieverts, saya pasti akan kembali," kata dia seperti dikutip news.com.au.
Nantinya ketika krisis nuklir teratasi, para saurai nuklir ini tak akan diizinkan masuk ke PLTN sekurangnya dalam lima tahun, atau bahkan seumur hidup.

Namun, saat itu juga, nama-nama mereka akan terungkap ke publik. Jepang dan dunia akan mengenal mereka sebagai pahlawan yang gagah berani. "Anda semua adalah pahlawan dunia modern," demikian tertulis dalam poster di Ni Channeru -papan elektronik terbesar di dunia.

Tapi, yang paling cemas tentu saja para keluarga dan kerabat yang harap-harap cemas menunggu kejelasan nasib para pekerja. Seorang perempuan, misalnya, mengaku suaminya nekat terus bekerja meski tahu ia bakal dibombardir radiasi. Dalam sebuah pesan email, sang suami menulis, "Teruslah hidup dengan baik, aku belum bisa pulang."

Selasa, 22 Maret 2011

Dengan Algoritma Khusus, Tsunami Bisa Dideteksi dalam 8,5 Menit


Seismolog mengembangkan sebuah sistem yang bisa digunakan untuk mendeteksi pemunculan tsunami hanya dalam hitungan menit setelah gempa terjadi.
Sistem itu, yang disebut dengan nama RTerg, diharapkan dapat membantu menurunkan jumlah korban dengan memberikan waktu lebih lama bagi penduduk untuk mengungsi ke tempat aman.


Pengembangan teknologi yang dilakukan oleh peneliti dari Georgia Institute of Technology itu dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters.


“Kami mengembangkan sistem yang secara real time berhasil mengidentifikasi gempa skala 7,8 di Sumatera pada 2010 sebagai gempa tsunami langka dan berpotensi merusak,” kata Andrew Newman, peneliti dari School of Earth and Atmospheric Sciences, seperti dikutip dari Science Daily.


Dengan menggunakan sistem ini, menurut Newman, seismolog bisa memperingatkan penduduk setempat dan meminimalisasi korban tewas akibat tsunami.


Sebagai informasi, dibanding gempa biasa yang berlangsung lebih cepat dan langsung mengguncang, gempa tsunami umumnya terjadi secara perlahan-lahan, berlangsung lebih lama, dan tidak banyak mengeluarkan energi.


Untuk mengetahui apakah akan ada tsunami, RTerg akan dikirimi notifikasi dari tsunamiwarning center terdekat bahwa gempa telah terjadi.


Notifikasi itu menyediakan informasi seputar lokasi, kedalaman, dan perkiraan magnitudo gempa. Jika terdeteksi mencapai 6,5 atau lebih tinggi, sistem hanya membutuhkan sekitar 1 menit untuk mengambil data dari sekitar 150 stasiun pendeteksi gempa di seluruh dunia.


Setelah data terkumpul, sistem akan menggunakan algoritma untuk mengukur guncangan dan mengetahui apakah ada pertumbuhan kenaikan energi serta memastikan apakah gempa itu merupakan gempa tsunami atau bukan.


Saat mendeteksi gempa tsunami di Sumatera pada 2010, sistem RTerg membutuhkan waktu 8 menit 30 detik untuk memastikan bahwa tsunami akan terjadi.
Sistem ini nantinya akan mengirimkan notifikasi setelah hasil penghitungan selesai dilakukan.


“Sebagian besar tsunami tiba di pesisir sekitar 30 sampai 40 menit setelah guncangan terjadi. Jadi, kita punya sekitar 20 sampai 30 menit untuk menyebarkan informasi yang didapat ke instansi terkait,” kata Newman.


Saat ini, Newman menjelaskan, pihaknya tengah berusaha untuk memangkas waktu yang dibutuhkan sistem guna menghasilkan informasi tsunami. Mereka juga akan menulis ulang algoritma yang dibutuhkan agar sistem ini bisa dipasang di seluruh pusat pemantau di seluruh dunia.