Tampilkan postingan dengan label riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label riset. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2012

Aplikasi smartphone melacak pengguna bahkan ketika aplikasi sedang tidak digunakan

Menurut dua peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), beberapa aplikasi smartphone mengumpulkan dan mengirimkan informasi sensitif yang disimpan pada ponsel, termasuk lokasi, kontak, dan sejarah Web browsing, bahkan ketika aplikasi tidak sedang digunakan oleh pemilik ponsel.

Aplikasi smartphone melacak privasi pengguna

"Sepertinya orang tidak lagi mengendalikan privasi mereka sendiri," kata Frances Zhang, mahasiswa master dalam ilmu komputer di MIT.

Zhang dan rekan peneliti Shih Fuming, kandidat doktor ilmu komputer, menemukan bahwa beberapa aplikasi populer untuk ponsel yang menggunakan sistem operasi Android terus mengumpulkan informasi tanpa memberitahu pemilik telepon.

Game populer Angry Birds menggunakan telepon GPS dan fitur Wi-Fi  nirkabel jaringan untuk melacak lokasi pemilik, bahkan ketika dia tidak bermain game, misalnya. Permainan lain, Bowman, mengumpulkan informasi dari browser Internet ponsel, termasuk website apa yang telah dikunjungi pemilik. Dan WhatsApp, sebuah program text-messaging populer, scan buku alamat pengguna walaupun saat aplikasi sedang tidak digunakan.

Apa yang tidak diketahui adalah apakah aplikasi yang berjalan pada iPhone dan komputer tablet iPad mengumpulkan informasi dengan cara yang sama. Shih dan Zhang hanya menguji 36 aplikasi yang dibuat untuk sistem operasi Android, yang merupakan perangkat lunak "open source" pengguna berarti bebas untuk memodifikasi program yang berjalan pada platform. Para peneliti menambahkan perangkat lunak untuk Android yang mencatat tindakan setiap aplikasi pada ponsel Android standar. Mereka tidak bisa menjalankan tes yang sama pada iPhone atau aplikasi iPad, karena perangkat lunak Apple tidak dapat diubah oleh pengguna. Zhang mengatakan itu mungkin aplikasi iPad dan iPhone juga mengumpulkan dan mengirimkan informasi di latar belakang, "tapi kami tidak memiliki data untuk mendukung itu."

Ada alasan logis untuk beberapa aplikasi untuk mengumpulkan data tersebut, kata Zhang. Rovio Entertainment Ltd, pembuat Angry Birds, membuat uang dari versi gratis dari permainan dengan menampilkan iklan di layar. Menggunakan data lokasi dari ponsel ke titik pemain untuk pengiklan lokal. Tapi Zhang mempertanyakan kebutuhan untuk menjaga pelacakan lokasi pengguna bahkan ketika permainan dimatikan. Dan tidak ada alasan yang jelas video game seperti Bowman perlu tahu tentang kebiasaan web-surfing pemain, katanya.

Para pengembang Angry Birds dan Bowman tidak menanggapi permintaan komentar.

WhatsApp dikutip dari kebijakan privasi, yang mengatakan aplikasi yang scan buku alamat untuk nomor telepon hanya untuk melihat apakah ada teman-teman pengguna juga pengguna WhatsApp. Menurut pernyataan kebijakan, WhatsApp tidak menyalin nama, alamat, atau alamat e-mail dari buku alamat telepon.

Zhang dan Shih telah mengajukan permohonan paten pada penelitian mereka, yang mereka berharap untuk berubah menjadi sistem penilaian untuk membantu konsumen dengan cepat memahami kebijakan privasi untuk ribuan aplikasi. Mereka menggunakan hasil tes mereka untuk menghitung "nilai campur tangan" untuk setiap rating, jumlah data pribadi yang dikumpulkan ketika aplikasi sedang digunakan dan saat idle. Tapi mereka dapat menguji hanya segelintir lebih dari setengah juta aplikasi Android, sehingga mereka berharap untuk mengembangkan sebuah aplikasi terpisah yang akan "crowdsource" proses. Pemilik ponsel Android bisa menginstal aplikasi, menggunakannya untuk menguji aplikasi lain, kemudian mempublikasikan hasilnya pada sebuah situs web. Konsumen bisa memeriksa skor campur tangan sebuah aplikasi sebelum memutuskan apakah akan menginstalnya.

"Seiring waktu, kami berharap untuk menggunakan ini untuk memotivasi pengembang untuk lebih berhati-hati tentang praktik privasi mereka," kata Zhang.

Pelacakan dampak privasi aplikasi smartphone "hanya sangat, sangat sulit," kata Hal Abelson profesor ilmu komputer MIT, penasihat Shih dan Zhang.

Sebagian besar aplikasi telah menulis kebijakan privasi, menurut sebuah survei yang dirilis pada bulan Juli oleh Future think tank dari Forum Privasi di Washington, DC, yang didanai oleh sejumlah perusahaan teknologi.

Namun pernyataan kebijakan privasi sering begitu lama dan sulit untuk memahami bahwa beberapa orang membacanya, dan mereka sering kekurangan rincian penting, kata Abelson. Kebijakan privasi untuk Angry Birds, misalnya, tidak mengungkapkan bahwa aplikasi terus melacak lokasi pengguna bahkan ketika permainan dimatikan.

Pada bulan Juni, Telekomunikasi Nasional dan Administrasi Informasi mengumumkan upaya untuk menciptakan standar privasi kekuatan hukum untuk aplikasi mobile.

"Langkah pertama adalah transparansi," kata Peter Swire, seorang profesor hukum di Ohio State University yang mengawasi kebijakan privasi federal selama pemerintahan Clinton.

Penelitian MIT dapat membantu dengan menyediakan alat evaluasi privasi sederhana bagi konsumen dan regulator.

"Saya pikir itu akan membantu ekosistem," kata Swire, "karena kita akan melihat praktik memalukan lebih cepat."

Sumber: http://www.boston.com/

Jumat, 10 Agustus 2012

Sistem Kekebalan Tubuh Dapat Dikendalikan Oleh Pikiran


Sistem kekebalan tubuh
Film tentang paranormal sering menunjukkan bagaimana mereka membisikkan mantra di atas luka pendarahan, atau bagaimana mereka melihat secara dekat orang yang sakit parah, dan dia segera membaik. Dokter menyebutnya penipuan seperti penyembuh. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kekebalan dapat dikendalikan oleh pikiran . Secara khusus, otak kita mampu mempengaruhi intensitas reaksi alergi. Seperti kesimpulan fantastis dibuat oleh para peneliti dari University of South Australia.

Dalam percobaan, beberapa relawan yang disuntik dengan histamin , yang diproduksi dalam jumlah besar oleh sistem kekebalan tubuh kita dalam kasus serangan alergi. Histamin disuntikkan di lengan, tetapi percobaan diorganisasi sedemikian rupa sehingga tampak seolah-olah obat itu disuntikkan pada sebuah boneka karet. Pada saat yang sama, suntikan nyata dibuat di lengan lainnya.

Ternyata ketika orang mengira bahwa injeksi histamin telah dilakukan untuk boneka itu, reaksi alergi jauh lebih kuat . Sepertinya otak berhenti mengikuti sistem kekebalan tubuh karena injeksi dibuat. Ilusi ini juga memicu penurunan aliran darah dan suhu di lengan diduga diganti.

Jadi, itu berarti bahwa dalam banyak sistem kekebalan tubuh dipengaruhi oleh kesadaran . Penemuan ini menyoroti penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang tubuh, seperti skizofrenia, stroke, autis, epilepsi, anoreksia dan bulimia.

Rabu, 06 Juni 2012

Kemristek Siapkan "E-Journal" Hasil Riset Ilmiah

Kementerian Riset dan Teknologi mempersiapkan jurnal elektronik atau "e-journal" untuk memampang berbagai hasil riset ilmiah para ilmuwan dari berbagai institusi riset yang disebut Pustaka Jurnal Ilmiah Indonesia.

"Tahun ini juga kami akan `launching," kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta di sela Konferensi "Infrastruktur Informasi Sains dan Teknologi: Digitalisasi, Open Access, dan Interopabilitas" di Goethe Haus Jakarta.

Dengan e-journal, ujarnya, pemaparan hasil riset mudah diakses siapapun, kapan saja dan di mana saja, lebih cepat dan efisien, selain itu harus menggunakan sitem yang "interopability" yang memungkinkan dapat dijalankan di semua sistem informasi berbagai institusi.

Institusi yang akan "link" dengan e-journal ini yakni lembaga-lembaga pemerintah non-kementerian di bawah Kemristek, badan-badan litbang daerah hingga universitas, dengan lebih dulu akan menjalin kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret, Jateng.

"Untuk membuat e-journal ini kami bekerja sama dengan LIPI dengan mengadopsi dan memodifikasi Open Journal System (OJS) Software yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Pada 2011 Kemristek juga telah mendigitalisasi 1.860 makalah ilmiah bersama LIPI," katanya.

Ia berharap, dengan memasukkan semua hasil riset di berbagai institusi riset nasional dan daerah ke dalam bentuk digital, maka penelitian yang dilakukan para ilmuwan tidak akan lagi mengulang-ulang, tumpang-tindih serta akan lebih memiliki sasaran yang lebih jelas.

Menristek juga mengatakan, Kemristek telah bekerja sama dengan LIPI meluncurkan perangkat lunak Library Archive, Analysis System (Laras) atau disebut Pustaka Karya Ilmiah Indonesia yang berisi berbagai literatur ilmiah.

Menteri mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Jerman untuk menerapkan e-journal ini karena negara tersebut dan Eropa pada umumnya sudah berpengalaman mengembangkan infrastruktur informasi yang khusus untuk iptek.

Sementara itu Prof Dr Ilham Habibie menyatakan pentingnya Indonesia membangun infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang dinilainya masih lemah, karena di masa depan seluruh aktivitas akan bersifat digital.

Dalam kesempatan itu, Gusti juga mengeluhkan kecilnya anggaran riset di Indonesia yang hanya sebesar 0,08 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sementara Komite Inovasi Nasional menyarankan anggaran riset sedikitnya satu persen dari PDB.

"Saya berencana mengajukan tambahan anggaran bagi keperluan iptek dan riset ini. Waktu saya di Kementerian Lingkungan Hidup (Menteri LH -red) saya berhasil menaikkan anggarannya menjadi dua kali lipatnya," katanya. (ANTARA)

Selasa, 10 April 2012

Divine Kretek, Asap Rokok yang Bisa Jadi Obat


Siapa bilang asap rokok selalu berdampat negatif terhadap kesehatan perokok maupun orang di sekitarnya? Pemahaman ini terbantahkan dari hasil penelitian yang dilakukan Kelompok Studi Nano Sain dari Universitas Brawijaya Malang. Bahkan dengan asap rokok, kualitas hidup penderita penyakit degeneratif bisa diperbaiki.

Guru Besar Ilmu Biologi Sel Universitas Brawijaya Malang, Prof Sutiman B. Sumitro, mengatakan, beberapa riset dan praktik pembaluran dengan menggunakan asap rokok bernama Divine Kretek hasil penelitian Unibraw, telah berhasil membantu memperbaiki kualitas hidup penderita berbagai penyakit degeneratif. "Seperti kanker, stroke, altsheimer, gagal ginjal, hepatitis, spasmophile, myastemia, autism, cerebal palsy, dan down syndrom," kata Sutiman kepada wartawan di Jakarta, Senin (7/2).

Bersama ahli kimia-fisika alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr.Gretta Zahar, Sutiman melakukan penelitian tentang Divine Kretek sejak tahun 2005. Divine Kretek merupakan hasil pendekatan berfikir Nano Sain yang membangun konsep hubungan berbagai penyakit ini dengan kadar logam Hg+metal (logam merkuri) di dalam tubuh. Sutiman menjelaskan, dari hasil penelitian yang dilakukannya, Kelompok Nano Sain yang beranggotakan beberapa peneliti dari bidang kedokteran, kimia dan fisika ini menciptakan Divine Kretek yang berfungsi sebagai pengendali bahaya radikal bebas dan logam merkuri dalam darah.

"Team kami dapat mentrasformasikan rokok beracun menjadi rokok berasap sehat, tidak berbau dan ramah lingkungan melalui Divine Kretek. Serangkaian uji coba terhadap kelompok hewan serta relawan perokok telah dilakukan. Asap ini diduga kuat mempercepat proses detoksifikasi karena mampu memperkecil racun tubuh pada skala nano (sepersemiliar meter). Dalam bentuk nano, racun dapat keluar dari jaringan tubuh dan kulit tanpa merusak sehingga tidak meninggalkan bekas luka," katanya.

Sutiman menambahkan, pada prinsipnya asap rokok itu berbahaya bila kandungan kimia seperti penantrin, nikotin, dan merkuri berbentuk partikel bebas. Namun bila kandungan kimia itu tetap berbentuk senyawa dan berkelompok membentuk polimer, maka asap rokok tidak berbahaya. "Jadi sesunguhnya asap rokok mengandung komponen berbahaya, tapi bila berkelompok maka akan saling menetralkan," katanya.

Sedangkan pengelola "Rumah Sehat" dr Saraswati Subagjo MPsi mengatakan, dengan Devine Kretek penderita kanker dapat disembuhkan. Alasannya, proses detoxifikasi pembaluran kulit dengan menggunakan berbagai bahan peluruh radikal bebas yang dikombinasikan dengan asap rokok Devine Kretek yang berbentuk filter dan cair itu dapat mengangkat merkuri dan logam berbahaya lainnya dari dalam tubuh.

Rumah Sehat dan Kelompok Studi Nano Sain yang berinduk pada Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas (LPPRB) mengembangkan proses detoxifikasi yang dapat mengangkat racun logam berbahaya, seperti merkuri atau air raksa dari tubuh pasien. Dari porses pembaluran ini, kanker dan beberapa penyakit lain dapat diobati karena pada prinsipnya tubuh memiliki kemampuan melakukan self regeneration maupun self reparation.

Sumber: JPNN.com

Senin, 12 Maret 2012

Ditemukan Fosil Hutan Tertua Berusia 385 juta Tahun

Sebuah tim internasional, mencakup seorang peneliti Universitas Cardiff yang sebelumnya menemukan bukti pohon tertua di Bumi, telah maju satu langkah lebih jauh. Tim peneliti sekarang menggali dan menyelidiki sebuah fosil hutan berusia 385 juta tahun.

Hutan fosil Gilboa, di Pegunungan Catskill di hulu Negara bagian New York, secara umum disebut ‘hutan fosil tertua.’ Namun dalam standar ilmiah tetap mistik.

Fosil dari ratusan tunggul pohon besar (‘pohon Gilboa’) terlestarikan dalam batuan ditemukan thun 1920an pada penggalian sebuah bekas tambang untuk mengekstrak batuan bahan bangunan bendungan Gilboa didekatnya. Hanya sedikit informasi diperoleh mengenai konteks geologi tunggul fosil ini, tanah tempat tumbuh pohon ini, maupun ruang basis pohon. Setelah penyelesaian bendungan, cekungan kembali ditimbun. Hingga sekarang, satu-satunya cara hutan fosil Gilboa diteliti adalah dari specimen museum dan dari paparan kecil level lain di dekat sungai didekatnya.

Bulan Mei 2010, galian tersebut dikosongkan kembali sebagai bagian dari proyek perawatan bendungan. Para peneliti memonitor lokasi bersama kontraktor, Thaille Construction Company dan Dinas Perlindungan Lingkungan Kota New York. Professor Bill Stein, Binghamton University dan Frank Mannolini, New York State Museum melihat kalau lantai cekungan awal terpaparkan dan kalau akar serta posisi tunggul masih terlestarikan.

Dr Chris Berry, Cardiff School of Earth and Ocean Sciences menjelaskan: “Untuk pertama kalinya kami mampu menyusun sekitar 1300 meter persegi bersih untuk penelitian. Sebuah peta posisi dari semua tanaman terlestarikan di permukaan tersebut telah dibuat.

Temuan para peneliti diterbitkan dalam jurnal Nature 1 Maret 2012. Mereka menjelaskan basis pohon Gilboa sebagai depresi berbentuk mangkuk spektakuler hingga hampir 2 meter diameterny, dikelilingi oleh ribuan akar. Ini diketahui sebagai basis pohon tingginya sekitar 10 meter, yang terlihat seperti pohon kelapa atau pakis haji. Salah satu kejutan terbesar adalah para peneliti menemukan banyak batang kayu berbaring horizontal, hingga setebal 15 cm, yang mereka tunjukkan merupakan batang tanah dari tipe tanaman lainnya [aneurophytalean progymnosperm], sebelumnya hanya diketahui dari cabang atasnya. Mereka juga menemukan satu contoh besar lumut gada, tipe pohon yang umumny membentuk lapisan batu bara di batuan muda di Eropa dan Amerika Utara.




Dr Berry mengatakan: “Semua ini menunjukkan kalau ‘hutan tertua’ di Gilboa jauh lebih kompleks secara ekologis daripada yang kita duga, dan mungkin mengandung lebih banyak lagi karbon terkunci sebagai batuan dari pada yang kita ketahui sebelumnya. Ini akan memungkinkan spekulasi yang lebih baik mengenai cara evolusi hutan mengubah Bumi.

“Secara pribadi, kemungkinan berjalan di lantai hutan purba, dan membayangkan tanaman yang saya telah pelajari sebagai fosil selama lebih dari 20 tahun berdiri hidup di posisi yang ditandai oleh basisnya, sangat menyenangkan. Tujuh tahun lalu, kolega Linda dan Frank menemukan sebuah fosil pohon Gilboa lengkap. Itu mengesankan. Namun kali ini, kami dapatkan satu hutan!”



source: http://www.cardiff.ac.uk/
translate:
http://www.cardiff.ac.uk/news/articles/oldest-fossilised-forest-revealed-8277.html

Topik Lainnya: sainsrisetbiologi bumipenelitiansejarah

Sabtu, 03 September 2011

Mikrobot, Robot Mikro yang Bisa Membawa Objek 4 Kali Lebih Besar

Ilmuwan dari Departemen Energi Argonne baru saja menciptakan kreasi teknologi yang menarik. Mereka menciptakan mikrobot yang dpapat menari. Ukuran robot ini hanya setengah milimeter yang bisa menggabungkan diri dan membawa objek yang 4 kali lebih besar dari ukurannya.






Jika diamati dengan mikroskop, mikrobot yang berskala milimeter tersebut dapat menggerakkan ‘rahangnya’ untuk bergerak memutari sebuah obyek beberapa kali bahkan menggerakkan serta memindahkan objek lain. Mikrobot ini terbuat dari mikropartikel dan tidak dapat bergerak sendiri dan digerakkan secara remote.  Yang hebat robot ini juga dapat memperbaiki diri.

Mikrobot tersebut  bergerak merespon medan magnet di dekatnya. Mereka dapat membentuk seperti bintang dan bergerak memutar. . Mengesankan bukan!
Meskipun saat ini masih dalam tahap penelitian, hasil penggunaan robot ini bisa memiliki implikasi ganda. Mini-robot bisa memanipulasi reaksi kimia, membawa/melakukan perawatan medis untuk tempat-tempat tertentu dalam tubuh, menghilangkan partikel untuk studi lebih lanjut atau membersihkan suatu permukaan.

Senin, 01 Agustus 2011

Antilaser Untuk Teknologi Komputer Masa Depan

Laser merupakan teknologi yang sudah berusia 50 tahun yang kini jamak digunakan di berbagai perangkat, mulai dari CD sampai ke pointer yang biasa digunakan untuk presentasi. Kini, teknologi itu menghadapi lawannya, yakni antilaser.

Perangkat antilaser akan mampu menangkap dan membatalkan sinar laser yang sudah dipancarkan.

Menurut Douglas Stone, peneliti asal Yale University, Amerika Serikat, meski perangkat seperti itu kemungkinan hanya cocok untuk film-film fiksi ilmiah, namun dalam dunia nyata, penggunaan yang paling memungkinkan dari teknologi antilaser adalah di dunia komputer, khususnya drive optik.

“Ke depannya, cara kerja perangkat ini adalah seperti memancarkan laser secara terbalik,” kata Stone, seperti dikutip dari Phbeta.

Stone menyebutkan, meski laser membutuhkan energi listrik dan memancarkan sinar dalam pita frekuensi yang cukup sempit, antilaser yang diciptakannya mengambil sinar laser dan mentransformasikannya menjadi energi panas. Akan tetapi energi ini juga dapat dikonversikan menjadi energi listrik.

Laser konvensional, yang ditemukan pada tahun 1960, menggunakan apa yang disebut dengan ‘gain medium’ misalnya material semikonduktor untuk membuat pancaran gelombang cahaya yang fokus.

Adapun perangkat yang dibuat Stone menggunakan silikon sebagai penyerap ‘loss medium’ yang menangkap gelombang sinar itu yang akan membuatnya memantul-mantul hingga mereka dikonversikan menjadi panas.

Dan meskipun teknologi yang ditemukan Stone tampak menarik, antilaser yang ia buat tidaklah ditujukan sebagai pelindung laser. “Ini merupakan cara untuk menyerap laser. Berbeda dengan pistol laser yang jika ia digunakan untuk membunuh, sinar lasernya tetap akan membunuh targetnya,” ucapnya.

Menurut Stone, penggunaan yang paling memungkinkan untuk teknologinya adalah di bidang komputer. “Komputer kinerja tinggi masa depan akan memiliki chip hybrid,” ucapnya. “Bukannya memiliki chip dengan transistor dan silikon, komputer masa depan akan menggunakan energi listrik dan cahaya,” ucap Stone.

Stone menyebutkan, perangkat dengan antilaser juga bisa digunakan sebagai sakelar optik yang bisa dinyala-matikan kapanpun diinginkan.

Minggu, 31 Juli 2011

Kulit Katak Hasilkan Obat Kanker

Penelitian para ilmuwan dari Queen's School of Pharmacy menemukan protein pada kulit katak yang bermanfaat untuk pengobatan. Jenis protein yang ditemukan itu, berpotensi besar dapat mengobati penyakit kanker, stroke, dan menyembuhkan luka pascaopereasi dengan mengatur pertumbuhan pembuluh darah.

Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Shaw itu berhasil mengidentifikasi dua protein atau ‘peptida’ yang dapat mengontrol ‘angiogenesis', sebuah proses pembuatan pembuluh darah dalam tubuh.

Penemuan ini berpotensi  mengembangkan obat baru penyakit yang telah mempengaruhi kondisi manusia selama70 tahun dan dirasakan lebih dari satu miliar orang di seluruh penjuru dunia itu.

Protein itu ditemukan dalam sekresi pada kulit katak Waxy Monkey dan the Giant Firebellied Toad. Dalam penelitian itu, para ilmuwan menangkap katak-katak dan  mengambil protein hasil sekresi pada kulit katak sebelum melepaskan kembali ke alam bebas. Katak-katak itu tak menderita sedikitpun selama proses ini.

Menurut Profesor Shaw, protein yang ditemukan itu memiliki kemampuan, baik untuk merangsang atau membatasi pertumbuhan pembuluh darah.

Dia mengatakan, protein yang ditemukan pada kulit katak the Waxy Monkey bisa menghambat angiogenesis. Dengan ‘mematikan', angiogenesis dan menghambat pertumbuhan pembuluh darah, protein ini berpotensi dapat membunuh tumor kanker.

Kebanyakan, tumor kanker hanya dapat tumbuh sampai ukuran tertentu sebelum mereka memerlukan pembuluh darah yang tumbuh dalam tumor untuk memasok nutrisi penting dan oksigen. "Menghentikan pertumbuhan pembuluh darah akan memperkecil kemungkinan penyebaran tumor dan akhirnya membunuh tumor kanker," kata Sahw seperti dilansir laman medindia.net.

Sebaliknya, para ilmuwan menemukan protein yang mampu menghidupkan dan merangsang pertumbuhan pembuluh darah pada the Giant Firebellied Toad. Protein ini sangat potensial menyembuhkan susunan organ yang ditransplantasi, luka diabetes, dan kerusakan yang disebabkan oleh stroke atau kondisi jantung.

Shaw mengatakan penelitian yang dilakukan timnya ini merupakan keberhasilan mendapatkan solusi alami, padahal metode percobaan obat lain mengalami kegagalan. Karena besarnya potensi ini, angiogenesis menjadi target utama dari penelitian pengembangan obat-obatan selama empat puluh tahun. "Meski dana yang dikeluarkan peneliti dan perusahaan obat dunia cukup besar US$ 4-5 juta, mereka belum mengembangkan obat yang efektif membunuh target, mengontrol dan mengatur pertumbuhan pembuluh darah," kata dia.

Usaha ini, kata Shaw, telah membuka potensi alamiah untuk pengobatan, yakni dengan penemuan sekresi pada kulit katak dan kodok bangkong. "Kami sangat yakin alam memiliki solusi terhadap banyak masalah kita," kata dia.

Peneliti dari Queen ini mendapat penghargaan inovasi penyakit jantung pada Medical Future Innovation di London. Penghargaan ini termasuk anugrah bergengsi Eropa dalam bidang kesehatan dan bisnis.

Sabtu, 30 Juli 2011

Menggunakan Ponsel Tak Sebabkan Tumor Otak

Menggunakan ponsel selama bertahun-tahun ternyata tidak akan menambah resiko orang terkena penyakit kanker otak jinak. Demikian hasil dari sebuah riset terakhir yang dilakukan oleh ilmuwan Denmark.
Riset yang melibatkan pengumpulan data dari 2,9 juta orang Denmark, itu menyimpullkan bahwa para pengguna ponsel selama 11 tahun atau lebih, tidak memiliki tumor jenis ini, atau disebut juga dengan nama vestibular schwannomas

Hasil penemuan ini kontradiktif dengan banyak penelitian sebelumnya. Ilmuwan dari Denmark ini mengatakan bahwa mereka tidak menemukan hubungan jangka panjang antara ponsel dengan perkembangan tumor itu.

Vestibular schwannomas adalah penyakit tumor ringan yang secara teoritis timbul dari energi yang terserap oleh otak dari medan elektromagnet yang dihasilkan oleh ponsel. Pada riset sebelumnya, World Health Organization mengklasifikasikan ponsel sebagai penyebab potensial kanker (karsinogen). 

Riset yang dilakukan oleh ilmuwan Denmark ini adalah salah satu yang terbesar untuk meneliti masalah ini. Penelitian ini hanya mendata berapa lama seseorang telah menjadi pengguna ponsel. Namun, tidak mendata seberapa sering orang tersebut menggunakan ponsel. 

Menurut, David Savitz, seorang profesor dari Brown University yang duduk dalam panel penelitian WHO itu, penemuan terbaru ini menjadi salah satu pembuktian ketiadaan hubungan antara pemakaian ponsel dengan peningkatan resiko vestibular schwannomas. Namun, kata Savitz, penelitian di bidang ini masih perlu terus dilakukan.
Vestibular schwannomas tumbuh di sekitar sel otak dan melibatkan fungsi pendengaran dan keseimbangan seseorang. Tumor ini akan menyebabkan seseorang kehilangan pendengaran, pusing-pusing, serta kehilangan keseimbangan.  

Bila tumor ini tumbuh semakin besar, tumor ini mungkin akan menekan daerah-daerah otak yang penting sehingga bisa juga mengancam jiwa pengidapnya.

Karena tumor jenis ini adalah tumor yang pertumbuhannya sangat lambat, jadi masih ada kemungkinan tumor ini diketahui setelah lebih dari 11 tahun. Oleh karenanya, para peserta penelitian musti terus dimonitor untuk mengetahui perkembangan vestibular schwannomas, dalam tubuh mereka.

Senin, 04 Juli 2011

Apakah Pengaruh Turunnya Aktvitas Matahari pada Bumi?

Pekan lalu, beberapa kelompok ilmuwan membuka kemungkinan bahwa perubahan iklim bisa hilang. Setidaknya untuk sementara. Argumen ini dibuat berdasarkan penelitian yang mereka lakukan terhadap aktivitas bintik Matahari.

Seperti diketahui, dari tiga penelitian yang berbeda, terlihat tanda-tanda bahwa jumlah bintik Matahari akan berkurang. Jika bintik berkurang, energi yang dipancarkan juga menurun. Akibatnya, panas terik Matahari akan reda di permukaan Bumi.

Temuan ini sontak memicu pendapat bahwa pemanasan global bukan lagi menjadi masalah yang akan kita hadapi.

Dikutip dari Good Environment, sejumlah peneliti berpendapat bahwa meski Matahari masuk ke periode istirahat, dan membuat panas yang ia pancarkan berkurang, kita masih tetap tidak bisa menghindari perubahan iklim.

Pada abad ke-17, saat Matahari masuk ke periode istirahat, suhu di planet Bumi memang menurun. Namun ketika itu, penurunan suhu Bumi bukan saja disebabkan oleh berkurangnya pancaran energi dari Matahari.

Pada periode yang sama, meski tidak ada hubungannya dengan aktivitas Matahari, di bumi terjadi pula aktivitas volkanik yang mengirimkan awan debu ke atmosfir, yang akhirnya ikut memblokir sinar Matahari.

Penurunan aktivitas surya yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2012 itu tentu akan memberikan efek pada Bumi. Namun demikian, pendinginan akibat berkurangnya aktivitas bintik Matahari itu diprediksi tidak akan sampai 1 derajat Fahrenheit.

Padahal, untuk menjaga Bumi tetap aman, umat manusia perlu menjaga temperatur global agar tidak naik lebih dari 2 derajat.

Saat ini, para ilmuwan memprediksikan bahwa peningkatan temperatur akan mencapai 3, 5, atau bahkan 7 derajat hingga tahun 2100 mendatang. Meski Matahari mendingin, dampaknya tidak akan besar terhadap pemanasan global.

Micronecta scholtzi, Hewan Paling Berisik di Bumi

Ilmuwan berhasil mendapatkan bukti seputar hewan paling berisik di seluruh dunia, khususnya jika melihat ukuran tubuhnya. Micronecta scholtzi, serangga yang tinggal di bawah air ini mampu mengeluarkan suara sebesar 99,2 desibel.

Sebagai gambaran 99,2 desibel kurang lebih sama kencangnya dengan mendengarkan permainan musik orkestra dan kita menyaksikannya dari deretan bangku terdepan. Frekuensi suara yang dihasilkan ada di sekitar 10kHz juga berada di dalam jangkauan pendengaran manusia.

Menurut James Windmill, peneliti dari University of Strathclyde, Skotlandia, hewan ini sangat hebat. “Meski 99 persen suara yang dihasilkan hilang saat bergerak dari dalam air ke luar ke udara terbuka, namun suara yang dihasilkan hewan yang ‘menyanyikannya’ dari dasar sungai masih bisa didengar oleh orang yang berjalan di pinggir sungai,” ucapnya.

Dikutip dari Science Daily, suara ‘nyanyian’ itu dikeluarkan oleh Micronecta scholtzi jantan yang ingin mencari perhatian lawan jenis. Ia menghasilkan suara dengan menggesekkan bagian tubuhnya. Yang menarik, bagian tubuh yang digesekkan tersebut hanya memiliki ukuran 50 mikrometer, atau sekitar lebar rambut manusia.

“Kami belum mengetahui bagaimana mereka bisa mengeluarkan suara sekencang itu dari area yang sangat sempit,” sebut Windmill.

Tim peneliti yang menyampaikan hasil temuannya di pertemuan tahunan Society for Experimental Biology Annual Conference di Glasgow itu menyebutkan bahwa mereka ingin mencari tahu dari aspek biologi dan teknis untuk mengetahui bagaimana hewan kecil bisa mengeluarkan suara sangat bising. Bila memungkinkan, ‘teknologi’ yang dimiliki hewan ini juga diaplikasikan dalam kehidupuan manusia.

“Secara biologi, penelitian ini bisa bermanfaat dalam upaya konservasi karena merekam suara serangga bisa digunakan untuk memantau keanekaragaman hewan,” kata Windmill. “Dari sisi teknis, penelitian ini bisa digunakan untuk teknologi akustik seperti sistem sonar,” ucapnya.

Sabtu, 18 Juni 2011

Biji Asam Bisa Mengobati Syaraf yang Rusak

Para peneliti dari Monash University, Australia menemukan sebuah biomaterial baru pada biji asam yang bisa menumbuhkan kembali syaraf yang rusak pada otak dan tulang belakang. Ke depan, penemuan ini diharapkan dapat merevolusi pengobatan syaraf yang rusak akibat cidera dan penyakit, seperti parkinson.

Andrew Rodda, ilmuan yang tergabung dalam Monash Material Engineering meneliti xyloglucan, senyawa yang berasal dari tanaman asam. Dalam tanaman, xyloglucan berperan penting untuk menghubungkan sel yang satu dengan lainnya. Sementara itu, Andrew Rodda, telah mengkaji khasiat biomaterial ini pada hewan yang menderita kerusakan sel syaraf.

Senyawa yang diteliti Rodda ini dapat disuntikkan dalam bentuk cairan ke bagian tubuh yang terluka. Secara perlahan, senyawa itu berubah menjadi gel ketika suhunya sama dengan suhu badan. Setelah mencapai sasaran, gel ini bertindak sebagai struktur pendukung melalui sel-sel sehat yang dapat bermigrasi serta bisa melekat ke sistem saraf.

Rodda mengatakan, selama ini terdapat kekurangan dalam proses penyembuhan syaraf yang rusak. Menurut dia, dalam metode penyembuhan selama ini, syaraf tidak bisa tumbuh kembali karena racun yang ditinggalkan bekas syaraf yang mati.

"Sel saraf itu sensitif, dan hanya akan tumbuh di lingkungan yang paling mendukung," kata Rodda sebagaimana dilansir medindia.net.

"Setelah cidera, sel-sel baru biasanya tidak dapat menembus ke dalam ruang kosong setelah kematian massal sel. Rumpun sel di pinggirnya, membentuk penghalang yang tidak bisa ditembus. Ini meninggalkan pusat luka, yang mengandung bahan kimia yang dapat membunuh saraf yang akan tumbuh."

Menurut Rodda, senyawa ini bekerja dengan menyediakan tangga-tangga sementara, di mana sel-sel baru dapat tumbuh dan menembus bekas luka.

Secara signifikan, sel penolong yang disebut astrocit akan bergerak menuju gel yang disuntikkan. Sel-sel ini kemudian mensekresikan bahan kimia bermanfaat, yang mungkin membantu menciptakan lingkungan di mana sel-sel saraf yang halus bisa bertahan.

Studi yang dilakukan Rodda ini merupakan bagian dari upaya untuk mendorong regenerasi syaraf di otak dan sumsum tulang belakang. Ini didasarkan pada pekerjaan sebelumnya di Monash University untuk memahami dan mengontrol pertumbuhan saraf menggunakan biomaterial.

Sabtu, 21 Mei 2011

Bakteri dalam Usus Pengaruhi Perilaku Manusia

Ribuan bakteri hidup dalam usus manusia. Selain memberikan manfaat, keberadaan bakteri-bakteri itu, terkadang juga merugikan manusia.

Sebuah penelitian terbaru mengungkap, bakteri dalam usus dapat mempengaruhi perilaku manusia.

Menurut penelitian yang dilakukan para peneliti dari Universitas McMaster, bakteri dalam usus bisa mempengaruhi zat kimia dalam otak dan mempengaruhi perilaku manusia. Temuan ini sangat penting, karena jenis penyakit perut, termasuk iritasi usus besar, sering dikaitkan dengan kegelisahan atau depresi.

Di samping itu, ada juga spekulasi yang mengatakan masalah psykologi, seperti gejala autisme, dikaitkan dengan bakteri yang terkandung dalam usus.

"Hasil yang menakjubkan memberikan dorongan untuk melakukan penelitihan lebih jauh terhadap komponen mikroba penyebab penyakit perilaku," kata profesor pengobatan dan peneliti dari Michael G. DeGroote School of Medicine, Stephen Collin seperti dilansir medindia.net.

Collin dan asistennya, Premysl Bercik melakukan penelitian di Institut Penelitian Kesehatan Pencernaan Keluarga Farncombe (Inggris).

Dalam penelitian itu, ditemukan bahwa dalam usus masing-masing orang terdapat sekitar 1.000 bakteri trillium yang hidup dengan nyaman, dan selaras dengan kehidupan manusia. Bakteri ini melakukan sejumlah fungsi penting terhadap kesehatan, yaitu menyerap energi dari makanan, melindungi terjadinya infeksi, dan menyediakan nutrisi untuk sel dalam usus.

Namun, jika 'kehidupan nyaman' bakteri-bakteri itu mengalami gangguan, akan berdampak pula pada kondisi manusia. Setiap gangguan dapat mengancam kondisi jiwa, seperti infeksi usus besar akibat antibiotik.

Untuk membuktikan bakteri dapat mempengaruhi perilaku, peneliti mengambil seekor tikus yang bebas bakteri, kemudian memberinya bakteri dari tikus yang memiliki perilaku agresif.

Hasilnya, setelah diberi bakteri tikus yang berperilaku agresif, tikus yang bebas bakteri dan semula diam itu berubah menjadi agresif dan lebih berani.

Penelitian yang sama juga menunjukkan tikus yang semula agresif menjadi pasif ketika diberi bakteri dari tikus yang berperilaku pasif.

Sementara itu, penelitian sebelumnya fokus pada peranan bakteri pada perkembangan awal otak. Collin mengatakan penelitian terakhir ini mengindikasikan meskipun banyak faktor yang menentukan perilaku, sifat dan stabilitas bakteri dalam usus dapat mempengaruhi tingkah laku dan setiap gangguan. Baik gangguan yang disebabkan oleh anti biotik atau infeksi, mungkin akan menyebabkan perubahan perilaku.

Selasa, 03 Mei 2011

Apakah Benar Pohon Bisa 'Bicara'?


Ternyata tak cuma hewan yang bisa berkomunikasi satu sama lain. Peneliti menyimpulkan bahwa pohon pun mampu menjalin komunikasi kepada sesamanya.
Seperti dilansir oleh situs IO9, Ian Baldwin, Director Max Planck Institute for Chemical Ecology, mempublikasikan sebuah paper yang menyimpulkan bahwa pohon bisa menyebarkan sebuah senyawa kimia untuk 'berkomunikasi' dengan pohon lain di dekatnya.
Menurut Baldwin, ketika sebuah pohon yang ia teliti diserang oleh serangga, pohon itu akan memproduksi tanin dan berbagai senyawa kimia lainnya. 
Senyawa itu biasanya dilepas untuk menghambat pertumbuhan dan tersedianya makanan bagi larva serangga itu, serta untuk mempertahankan diri dari serangan lebih lanjut dari serangga tersebut.
Temuan Baldwin lainnya, setelah itu ternyata tak cuma pohon yang terserang serangga saja yang mengeluarkan senyawa kimia itu, melainkan juga pohon-pohon lain yang belum diserang, mengeluarkan senyawa yang sama.
Baldwin dan rekan-rekannya berkesimpulan, senyawa kimia itu dikeluarkan sebagai mekanisme untuk memperingatkan potensi bahaya yang dihadapi oleh pohon-pohon lain sehingga juga bisa mempersiapkan pertahanan diri.
Penelitian lebih jauh menggunakan analisa molekuler dan genetika menemukan bahwa senyawa kimia dilepaskan melalui daun, mulai dari molekul kecil sederhana sepertiethylene, hingga senyawa yang lebih komplek seperti methyl jasmonate.
Senyawa-senyawa tersebut berdifusi dengan udara, dan ketika menyentuh pohon lain, maka pohon itu merespon dengan melakukan perubahan pertumbuhan dan sintesis kimia. 
"Bentuk komunikasi kimiawi dari tumbuhan yang kita duga adalah semacam teriakan tak langsung "Ada bahaya!" atau "Awas!", namun bukan seperti dialog." 
Sementara akar pohon pun juga akan mengeluarkan sejumlah komunikasi kimiawi yang berbeda. Namun, karena senyawa ini berada di lapisan tanah, ia tidak akan bisa menyebar sejauh senyawa kmia yang menyebar lewat udara dan air. 
Kini para peneliti tengah berupaya meneliti dan mengurai senyawa-senyawa kimia itu agar senyawa informasi itu dapat dimodifikasi dan digunakan secara genetik untuk keperluan pembasmian hama untuk tanaman yang akan dipanen.

Senin, 02 Mei 2011

Virus Untuk Optimalkan Sel Surya

Peneliti asal Massachusetts Institute of Technology (MIT) berhasil menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi proses konversi sinar matahari menjadi energi secara signifikan.

Caranya, mereka menggunakan virus untuk melakukan proses perakitan di tingkat mikroskopik. Adapun “pekerjaan” yang dilakukan virus itu antara lain adalah berinteraksi dengan karbon nanotube.

Tabung nano karbon, seperti diketahui sebalumnya, menawarkan potensi perbaikan teknologi, khususnya di bidang penyimpanan energi seperti sel bahan bakar dan thermocell.

Pada kasus panel surya, MIT menyebutkan, rongga silinder berukuran mikroskopik yang terdiri dari karbon murni ternyata apat meningkatkan efisiensi dari pengumpulan elektron dari permukaan sel surya. Namun demikian, peneliti menghadapi sejumlah tantangan saat berurusan dengan nanotube.

Masalah pertama, pembuatan nanotube karbon umumnya menghasilkan dua jenis nanotube. Sebagian bersifat seperti semikonduktor yang kadang memungkinkan listrik mengalir, dan kadang tidak. Ini merupakan tipe yang menguntungkan karena bisa meningkatkan performa sel surya.

Jenis kedua yang dihasilkan memiliki bersifat seperti logam yang berfungsi seperti kabel. Selalu memungkinkan listrik mengalir. Ini justru mengurangi performa produk panel surya yang dihasilkan.

Masalah kedua, nanotube juga cenderung mengumpul. Ini juga menurunkan tingkat efektivitasnya. Di sinilah virus berguna.

Peneliti MIT mendapati bahwa sebuah versi virus yang sudah dimodifikasi secara genetik, yang disebut M13 yang umumnya menginfeksi bakteria, bisa digunakan untuk mengontrol susunan nanotube pada permukaan, membuat tabung-tabung itu tetap terpisah sehingga tidak menimbulkan arus pendek serta menjaga tabung-tabung itu tetap berjauhan agar tidak saling menempel.

Menurut Angela Belcher, Professor of Energy dari MIT yang mengetuai penelitian, proses ini hanya menambahkan satu langkah sederhana pada proses pembuatan sel surya. “Proses ini juga tidak sulit untuk diadaptasi oleh fasilitas produksi yang ada saat ini,” ucap Belcher, seperti dikutip dari Earth Techling.

Belcher menyebutkan, sistem yang ditelitinya diuji dan menggunakan sel surya dari jenis yang disebut dengan sel surya peka warna (dye-sensitized). Namun, timnya yakin bahwa teknik ini juga bisa diaplikasikan pada sel surya tipe lain.

Dalam uji coba, mereka berhasil meningkatkan efisiensi konversi energi dari 8 persen menjadi 10,6 persen. Artinya, menggunakan teknik ini, peningkatan sekitar 32 persen atau nyaris satu per tiga kali lipat berhasil diraih.

Bahaya Plastik Kemasan

Sejumlah penelitian mengungkap banyaknya makanan sekaligus kemasannya yang berbahaya bagi kesehatan. Terbaru, dilakukan peneliti asal Amerika Serikat, Adam J Spanier, yang menemukan dampak buruk zat kimia pada kemasan plastik makanan terhadap pernapasan bayi.

Seperti dilansir dari laman Daily Mail, penelitian itu menunjukkan bahwa ibu hamil dengan tingkat bisphenol A tinggi dalam tubuh memiliki risiko dua kali lebih besar memiliki bayi menderita masalah pernapasan dalam
enam bulan pertama. Bayi mereka berisiko mengalami kerusakan paru-paru, asma, bronkhitis, dan alergi.

Bisphenol A atau BPA biasa digunakan untuk mengeraskan plastik, dan menjadi salah satu zat kimia yang diproduksi massal. Zat kimia ini dapat dengan mudah ditemukan pada produk-produk seperti botol susu
bayi, tempat CD, makanan, dan kemasana makanan.

Zat kimia ini sangat mirip dengan hormon estrogen. Karenanya, banyak ilmuwan percaya bahwa zat ini dapat menggangu produksi hormon di dalam tubuh.

Meskipun beberapa percobaan pada hewan menunjukkan bahwa BPA aman bagi tubuh, penelitian lainnya mengatakan bahwa BPA dapat menyebabkan kanker payudara, kerusakan hati, obesitas, diabetes,
dan masalah kesuburan.

Dalam penelitiannya, Spanier melihat tingkat BPA pada 367 wanita hamil. Penelitian di Penn State College of Medicine ini mengukur tingkat zat kimia pada ibu hamil pada usia kandungan minggu ke-16 dan 26.

Mereka menemukan, 99 persen wanita tercemar bahan kimia di tubuh mereka. Mereka dengan kadar BPA tinggi pada minggu ke-16 memiliki risiko mendapatkan bayi dengan masalah pernapasan pada enam bulan
pertama, dua kali lebih besar dibandingkan wanita yang hanya memiliki kadar BPA rendah.

Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa konsentrasi BPA yang tinggi pada minggu ke-26 dan pada saat kelahiran tidak berhubungan dengan kondisi tersebut.

Beberapa peneliti menganggap bahwa zat kimia yang dapat mengacaukan hormon tersebut lebih berbahaya pada masa awal kehamilan. Mereka juga menganjurkan bagi wanita usia subur untuk menghindari produk yang
mengandung BPA.

"Penelitian baru ini menambahkan alasan untuk mengurangi pemakaian zat kimia tersebut pada kemasan, terutama untuk wanita hamil," ujar Elizabeth Salter Green, directur Chemicals, Health and Environment
Monitoring Trust. Hal ini dikarenakan perkembangan janin dalam rahim sangat rentan pada BPA.

Tahun lalu, Denmark menjadi negara pertama di Uni Eropa yang melarang penggunaan BPA dalam kemasan makanan dan minuman, sedangkan Uni Eropa sudah melarang penggunaan BPA pada botol susu tahun lalu. Kanada dan tiga negara bagian AS pun telah memberlakukan pembatasan.

Jumat, 15 April 2011

Mengapa Burung Pelatuk Tak Pusing Saat Mematuk Batang Pohon?

Otot padat dan kuat pada leher burung pelatuk memberi kekuatan mematuk berkali-kali. Otot ekstra pada kepala burung membuat burung ini tak merasa kesakitan. Otot ini bertindak seperti helm pelindung otak.

Tak seperti otak manusia, otak burung pelatuk ‘dijaga’ ketat otot dan tulang kepala. Hal ini membuat otak burung tak berguncang-guncang ketika sedang mematuk-matuk cabang pohon. Sepermilidetik sebelum mematuk, otot burung ini berkonstraksi.

Kemudian diikuti penutupan kelopak mata dalam. Kelopak mata ini berfungsi seperti sabuk pengaman mata, kata ophthalmolog Ivan Schwab dari University of California Davis. “Tanpa kelopak ekstra, retina burung ini bisa pecah atau keluar”.

‘Perlengkapan’ keamanan ini sangat penting bagi pelatuk jantan yang mematuk 12.000 kali tiap hari selama musim kawin. Burung ini hanya mematuk dengan patukan lurus pada pohon. Burung ini mencegah trauma kepala dengan bergerak dari satu sisi ke lainnya.

Cara Semut Merah Bersosialisasi Mirip Seperti Facebook

Sekelompok peneliti dari Stanford University berkesimpulan bahwa cara semut bersosialisasi dengan rekan-rekannya mirip dengan orang bersosialisasi melalui jejaring sosial Facebook.

Saat tim yang dikepalai oleh Noa Pinter-Wollman meneliti interaksi antara semut merah (Pogonomyrmex barbatus) yang berada di daerah gurun Amerika Barat Daya, para peneliti menemukan cara berkomunikasi yang unik antara sesama mereka.

Seperti dilansir dari situs Physorg, setiap semut menggunakan sistem sinyal kimiawi untuk berkomunikasi. Molekul-molekul kimia itu dikeluarkan melalui exoskeleton (bagian tubuh keras terluar) mereka dan ditransfer kepada semut-semut sesama koloni, ketika antena mereka menyentuh atau menggosok satu sama lain.

Dengan cara ini, mereka bisa saling berkomunikasi untuk mengetahui dari mana semut-semut itu sebelum bertemu, apa ada sumber makanan yang mereka temukan, atau bahkan adakah predator yang mengancam wilayah itu.
Peneliti membuat sebuah kamar kecil untuk mengukur berapa kali pertukaran informasi mereka lakukan, setiap kali bertemu, atau bagaimana semut yang berlainan koloni berkomunikasi. 

Dari rekaman video tersebut, tim riset menggunakan program komputer yang dapat mengenali semut-semut yang diobservasi dan mampu menghitung berapa kali mereka berinteraksi satu sama lain. Penelitian ini merekam sebanyak 4.628 interaksi semut.

Rata-rata, setiap semut melakukan sekitar 40 kali interaksi. Bahkan, sekitar 10 persen dari semut yang diteliti bisa melakukan lebih dari 100 kali kontak dengan semut lain. Riset tersebut juga mengamati alasan-alasan yang membuat semut ini memiliki kecenderungan lebih, dalam kerja sama dan sosialisasi dengan semut lain.

Para peneliti juga membandingkan jenis hubungan sosial yang mereka jalin dengan sistem pertemanan di jejaring sosial Facebook. Ternyata memang terdapat beberapa persamaan. Hasil riset yang telah muncul di Journal of the Royal Society Interface itu, menemukan bahwa tidak semua semut tersebut aktif dalam hubungan sosial mereka. 
 
Seperti halnya karakter-karakter orang di Facebook, ternyata ada beberapa semut yang hanya berkomunikasi dengan beberapa kenalan di jaringan yang lebih kecil. Namun, ada pula semut yang memiliki jaringan yang lebih besar dan berkomunikasi dengan lingkaran yang lebih besar.

Sabtu, 09 April 2011

Apakah Ada Pil Yang Bisa Sembuhkan Cacat Moral?


Mungkin Ini seperti sebuah cerita fiksi. Tapi, suatu hari mungkin saja kita bisa mengobati cacat moral seseorang dengan menggunakan pengobatan melalui pil.
Para ilmuwan memang sangat tertarik untuk mengembangkan teknologi biomedis yang dapat mempengaruhi proses biologis, sehingga bisa meningkatkan perilaku moral seseorang.
"Sekarang, ini menjadi topik yang hangat di bidang riset saintifik," kata Dr Tom Douglas, periset dari Uehiro Centre Oxford University, seperti dikutip dari situs Guardian.
Menurut Douglas, yang juga merupakan salah satu pengarang buku Enhancing Human Capabilities, sebenarnya saat ini sudah ada obat-obatan yang dapat mempengaruhi pemikiran berlandaskan moral serta perilaku. 
Prozac, misalnya, bisa meminimalkan agresi dan kegetiran terhadap lingkungan sekitar. Dengan kata lain, obat ini juga bisa membuat pasien menjadi lebih kompromis. Sementara itu, Oksitosin, atau biasa disebut dengan 'hormon cinta', diketahui dapat meningkatkan perasaan terhadap ikatan sosial dan empati, sekaligus juga mengurangi rasa cemas. 
"Para ilmuwan akan mengembangkan lebih banyak obat-obatan. Sekarang saja, misalnya, kita bisa meminta resep beberapa dosis Oksitosin, sebagai obat semprot di hidung," kata Douglas. Namun, tak semua orang setuju dengan pendapat Douglas.
Deputy Director of Oxford Centre for Neuroethics Guy Kahane, mengatakan bahwa obat mungkin bisa mempengaruhi respon emosional seseorang. Namun, menurut Kahane, meningkatkan perilaku moral, bukanlah sesuatu yang bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan.
Lagipula, andaikan hal itu bisa, ia juga ragu apakah orang-orang mau dengan sukarela menenggak pil demi memperbaiki moralnya. Kahane mengatakan, membuat seseorang menjadi lebih baik, tidak agresif, dan lebih lembut berarti membuat orang itu menjadi lebih mudah dieksploitasi orang.
Di sisi lain, Kahane mengakui, bila hal ini diterapkan secara luas, mungkin memang bisa membantu manusia dalam mengatasi masalah global dan kemanusiaan. Namun, Ruud ter Meulen, Director of the Centre Ethics University of Bristol, memperingatkan, obat ini kadang juga bisa menimbulkan efek buruk. 
"Oksitasin memang bisa menanamkan rasa percaya dan kerjasama dengan orang lain pada kelompok sosial yang sama. Tapi ini juga bisa mengurangi rasa empati kepada orang yang berada di luar kelompoknya," kata Meulen.
Contoh lainnya, Meulen menjelaskan, pengobatan terhadap penyakit Parkinson menggunakan stimulasi otak juga bisa mengakibatkan pasien menjadi lebih berani mengutil dari toko, bahkan menjadi agresif secara seksual.
Meulen lebih setuju bila obat-obat pendongkrak perilaku moral ini digunakan pada sistem peradilan kriminal.
"Pil-pil ini akan lebih efektif bila digunakan untuk pencegahan dan mengobati kriminal daripada menjebloskan orang ke penjara," katanya. Di Indonesia, mungkin ini bisa diberikan kepada para pejabat atau wakil rakyat yang korup dan tidak bermoral.

Selasa, 22 Maret 2011

Dengan Algoritma Khusus, Tsunami Bisa Dideteksi dalam 8,5 Menit


Seismolog mengembangkan sebuah sistem yang bisa digunakan untuk mendeteksi pemunculan tsunami hanya dalam hitungan menit setelah gempa terjadi.
Sistem itu, yang disebut dengan nama RTerg, diharapkan dapat membantu menurunkan jumlah korban dengan memberikan waktu lebih lama bagi penduduk untuk mengungsi ke tempat aman.


Pengembangan teknologi yang dilakukan oleh peneliti dari Georgia Institute of Technology itu dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters.


“Kami mengembangkan sistem yang secara real time berhasil mengidentifikasi gempa skala 7,8 di Sumatera pada 2010 sebagai gempa tsunami langka dan berpotensi merusak,” kata Andrew Newman, peneliti dari School of Earth and Atmospheric Sciences, seperti dikutip dari Science Daily.


Dengan menggunakan sistem ini, menurut Newman, seismolog bisa memperingatkan penduduk setempat dan meminimalisasi korban tewas akibat tsunami.


Sebagai informasi, dibanding gempa biasa yang berlangsung lebih cepat dan langsung mengguncang, gempa tsunami umumnya terjadi secara perlahan-lahan, berlangsung lebih lama, dan tidak banyak mengeluarkan energi.


Untuk mengetahui apakah akan ada tsunami, RTerg akan dikirimi notifikasi dari tsunamiwarning center terdekat bahwa gempa telah terjadi.


Notifikasi itu menyediakan informasi seputar lokasi, kedalaman, dan perkiraan magnitudo gempa. Jika terdeteksi mencapai 6,5 atau lebih tinggi, sistem hanya membutuhkan sekitar 1 menit untuk mengambil data dari sekitar 150 stasiun pendeteksi gempa di seluruh dunia.


Setelah data terkumpul, sistem akan menggunakan algoritma untuk mengukur guncangan dan mengetahui apakah ada pertumbuhan kenaikan energi serta memastikan apakah gempa itu merupakan gempa tsunami atau bukan.


Saat mendeteksi gempa tsunami di Sumatera pada 2010, sistem RTerg membutuhkan waktu 8 menit 30 detik untuk memastikan bahwa tsunami akan terjadi.
Sistem ini nantinya akan mengirimkan notifikasi setelah hasil penghitungan selesai dilakukan.


“Sebagian besar tsunami tiba di pesisir sekitar 30 sampai 40 menit setelah guncangan terjadi. Jadi, kita punya sekitar 20 sampai 30 menit untuk menyebarkan informasi yang didapat ke instansi terkait,” kata Newman.


Saat ini, Newman menjelaskan, pihaknya tengah berusaha untuk memangkas waktu yang dibutuhkan sistem guna menghasilkan informasi tsunami. Mereka juga akan menulis ulang algoritma yang dibutuhkan agar sistem ini bisa dipasang di seluruh pusat pemantau di seluruh dunia.