Tampilkan postingan dengan label teknologi nano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknologi nano. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Juli 2011

AMD E-450 Chip AMD Fusion Dual Core Terbaru Lebih Cepat & Hemat Daya

Prosesor AMD E-350 merupakan chip yang menarik karena menawarkan kinerja lumayan, grafis yang layak, namun konsumsi daya yang relatif rendah. Sejumlah pembuat laptop termasuk HP, Asus, dan Lenovo telah merilis laptop tahun 2011 dengan menggunakan chip ini. Sekarang AMD bekerja pada sebuah model baru dengan kinerja lebih baik.

Fudzilla melaporkan bahwa AMD E-450 akan membawa prosesor grafis lebih kuat dan kecepatan clock CPU sedikit lebih tinggi , sambil menjaga konsumsi daya 18W TDP yang sama. AMD E-450 juga akan mendukung memori DDR3-1600

AMD E-350 adalah dual-core chip berkecepatan 1,6 GHz yang menggunakan Radeon HD 6310 untuk menangani grafis nah AMD E-450 terbaru akan menjadi 1,65 GHz prosesor dual core dengan Radeon HD 6320 graphics yang lebih cepat. Kedua chip ini mampu menangani grafik DirectX 11 dan playback video HD 1080p.

Chip baru ini juga akan menampilkan teknologi Turbo Core  yang bisa overclock pada satu core sementara underclocking yang lain untuk meningkatkan kinerja pada tugas-tugas yang tidak benar-benar memanfaatkan multi-threading  tanpa perlu mengorbankan ketahanan baterai. Kecepatan GPU clock juga akan melompat dari MHz 508-600 MHz ketika Turbo Core dijalankan. Prosesor AMD seri E memang  dirancang untuk efisien dalam penggunaan energi , menawarkan baterai yang layak dan konsumsi daya rendah.

Senin, 02 Mei 2011

Virus Untuk Optimalkan Sel Surya

Peneliti asal Massachusetts Institute of Technology (MIT) berhasil menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi proses konversi sinar matahari menjadi energi secara signifikan.

Caranya, mereka menggunakan virus untuk melakukan proses perakitan di tingkat mikroskopik. Adapun “pekerjaan” yang dilakukan virus itu antara lain adalah berinteraksi dengan karbon nanotube.

Tabung nano karbon, seperti diketahui sebalumnya, menawarkan potensi perbaikan teknologi, khususnya di bidang penyimpanan energi seperti sel bahan bakar dan thermocell.

Pada kasus panel surya, MIT menyebutkan, rongga silinder berukuran mikroskopik yang terdiri dari karbon murni ternyata apat meningkatkan efisiensi dari pengumpulan elektron dari permukaan sel surya. Namun demikian, peneliti menghadapi sejumlah tantangan saat berurusan dengan nanotube.

Masalah pertama, pembuatan nanotube karbon umumnya menghasilkan dua jenis nanotube. Sebagian bersifat seperti semikonduktor yang kadang memungkinkan listrik mengalir, dan kadang tidak. Ini merupakan tipe yang menguntungkan karena bisa meningkatkan performa sel surya.

Jenis kedua yang dihasilkan memiliki bersifat seperti logam yang berfungsi seperti kabel. Selalu memungkinkan listrik mengalir. Ini justru mengurangi performa produk panel surya yang dihasilkan.

Masalah kedua, nanotube juga cenderung mengumpul. Ini juga menurunkan tingkat efektivitasnya. Di sinilah virus berguna.

Peneliti MIT mendapati bahwa sebuah versi virus yang sudah dimodifikasi secara genetik, yang disebut M13 yang umumnya menginfeksi bakteria, bisa digunakan untuk mengontrol susunan nanotube pada permukaan, membuat tabung-tabung itu tetap terpisah sehingga tidak menimbulkan arus pendek serta menjaga tabung-tabung itu tetap berjauhan agar tidak saling menempel.

Menurut Angela Belcher, Professor of Energy dari MIT yang mengetuai penelitian, proses ini hanya menambahkan satu langkah sederhana pada proses pembuatan sel surya. “Proses ini juga tidak sulit untuk diadaptasi oleh fasilitas produksi yang ada saat ini,” ucap Belcher, seperti dikutip dari Earth Techling.

Belcher menyebutkan, sistem yang ditelitinya diuji dan menggunakan sel surya dari jenis yang disebut dengan sel surya peka warna (dye-sensitized). Namun, timnya yakin bahwa teknik ini juga bisa diaplikasikan pada sel surya tipe lain.

Dalam uji coba, mereka berhasil meningkatkan efisiensi konversi energi dari 8 persen menjadi 10,6 persen. Artinya, menggunakan teknik ini, peningkatan sekitar 32 persen atau nyaris satu per tiga kali lipat berhasil diraih.

Kamis, 31 Maret 2011

Gadget Dengan Tenaga Detak Jantung


Suatu hari, pemilik gadget pemutar musik tak perlu khawatir lagi bakal kehabisan baterai gadgetnya di tengah jalan. Selama ia masih bernafas, selama jantung masih berdetak, MP3 playernya dijamin akan terus menyala.
Sebab, baru-baru ini sekelompok ilmuwan telah menemukan sebuah chip kecil yang bisa membangkitkan tenaga listrik dari gerakan alamiah manusia.
Diharapkan, temuan ini bakal menghasilkan sebuah perangkat yang bisa menjadikan detak jantung manusia untuk menyuplai berbagai gadget sebagai sumber tenaganya.
Penemuan ini dibuat oleh beberapa ilmuwan dariGeorgia Institute of Technology. Mereka memanfaatkan kabel nano Zinc Oksida, untuk membangkitkan listrik. Secara teoritis, setiap gerakan tubuh sekecil apapun, bahkan cubitan sebuah jari, bisa digunakan membangkitkan listrik.
Sejauh ini, penelitian yang dipimpin oleh Dr Zhong Lin Wang itu telah berhasil menggunakan teknologi yang mampu mengirimkan sinyal radio dan menghidupkan display LCD serta dioda-dioda dalam rangkaian. Namun Wang cs yakin, penelitian ini akan bisa dikembangkan lebih jauh lagi.
Temuan Wang cs ini ribuan kali lebih baik daripada riset yang dilakukan pada teknologi gerak, sebelumnya. Ia menggunakan kabel nano (nanowires) yang ukurannya 500 kali lebih tipis daripada rambut manusia.
Dalam sebuah eksperimennya, lima buah kabel nano itu mampu menghasilkan tenaga yang setara dengan dua buah baterai AA berkapasitas 3 volt dan 1 mikro ampere.
Dengan menyusunnya dalam satu stack, kabel nano itu bisa menyuplai listrik kepada perangkat elektronik yang lebih besar lagi, seperti gadget semacam iPod atau ponsel. 
Diharapkan penemuan ini juga mampu diterapkan di berbagai aplikasi lain pada perangkat yang membutuhkan tenaga listrik yang lebih lama.
"Perkembangan ini merupakan sebuah tonggak capaian dalam mewujudkan perangkat elektronik portabel yang dapat ditenagai oleh pergerakan tubuh tanpa menggunakan baterai atau asupan listrik," kata Dr Zhong Lin Wang seperti dikutip dari situs DailyMail.